Senin, 18 Maret 2013

Salam Berbuah Cinta


Diro, sebut saja begitu nama lelaki bujangan asli Jawa ini. Diro dikenal sebagai lelaki yang sopan, hanif, dan punya ciri khas, yakni senang mengucapkan salam “Assalaamu’alaikum” kepada siapa pun -muslim- yang dijumpainya di manapun.
Suatu ketika, Diro ditugaspindahkan ke kota X, untuk jangka waktu dua tahun. Setibanya di kota X itu, lelaki bujangan ini langsung mencari tempat kos/kontrakan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Setelah tiga hari di kota tersebut, Diro baru menyadari bahwa ada gadis cantik dan shalihah yang tinggal hanya beberapa meter dari kos-nya. Seperti biasa, tanpa maksud buruk, tanpa niat menggoda, Diro pun mengucapkan salam kepada gadis itu, saat keduanya bersama-sama menunggu bis di tepi jalan.
Sekali lagi, Diro tidak punya niat apapun ketika mengucapkan salam. “Dia berjilbab, jadi sudah pasti muslim, maka saya ucapkan salam kepadanya. Lagi pula gadis itu tetangga saya, kan wajar sama tetangga saling menyapa, ” alasannya.
Ucapan salam Diro dibalas delikkan mata tidak suka dari gadis tetangganya itu. Namun Diro tidak peduli, karena niatnya sangat tulus. Begitu pun sore harinya, ketika berpapasan di jalan, Diro kembali mengucapkan, “Assalaamu’alaikum Dik… ” Jawabannya tidak berbeda dengan pagi hari, wajah tidak suka.Mungkin pikir si gadis itu, Diro tidak ubahnya lelaki iseng yang senang menggoda. Sudah lazim diketahui, lelaki-lelaki iseng dan kurang kerjaan senang menggoda wanita. Dan bila yang digoda adalah wanita berjilbab, ucapan “Assalaamu’alaikum” biasa dijadikan andalan mulut-mulut lelaki ini.
Berbeda dengan Diro. Dia tidak sakit hati ketika salamnya tidak dibalas, atau bahkan dibalas dengan tatap mata sinis. Setiap hari, setiap kali bertemu dengan gadis itu tetap mengucapkan salam. Diro tidak bosan meski salamnya selalu mendapat jawaban yang serupa, dan sesekali makian, “maunya apa sih?”

Penulis : Bayu Gawtama
(Sumber: http://www.eramuslim.com, milis myquran)

Maaf Sayang, Tapi Aku Harus Pergi

story nya ngena beudd -_-

Vemale.com - Oleh: Agatha Yunita
Rena: Terkadang aku hanya tak bisa mengerti, mengapa ada pria yang mengatakan cinta kemudian tiba-tiba ia meninggalkan kita tanpa sebab yang jelas. Hanya ada kata perpisahan yang menyakitkan dan menghancurkan hati. Apakah memang hati wanita diciptakan untuk itu?
***
Bagas: Aku tahu, apa yang aku lakukan ini tentunya akan menyakiti hati Rena, tetapi aku sungguh-sungguh mencintainya. Dan aku tidak ingin membuat ia sedih dengan mengatakan yang sejujurnya. Karena hatinya akan jauh lebih terluka, ia akan kecewa, dan terlebih lagi, sebenarnya aku yang takut ditinggalkannya...
***
Rena: Bagas, adalah pria yang kukenal 4 tahun silam dari sepupuku. Kami bertiga kuliah di tempat yang sama, tinggal di tempat yang sama, kelaparan bersama-sama, dan berlari ke warung Padang terdekat setelah mendapat kiriman dari orang tua.
Kami sama-sama merantau di kota orang, mengejar mimpi dan dibekali doa agar dapat meraih prestasi. Demikian mimpi yang sama membuat kami tak lantas hanya bisa menghabiskan uang hasil kiriman orang tua. Kami bertiga saling memberi motivasi dan semangat agar kuliah kami diselesaikan dengan baik seperti keinginan keluarga.
Melewati ratusan peluh dan air mata, kami berjanji untuk menjadi sahabat yang saling menjaga hingga pendidikan yang harus kami tempuh ini usai. Demikianlah, tanpa kuduga sebelumnya, aku jatuh cinta pada Bagas. Sosok yang sebenarnya kuanggap sebagai sahabat, yang sama-sama tak ingin mengecewakan orang tua masing-masing. Aku tahu. Ia juga menyimpan perasaan yang sama, semua itu terlihat jelas dari binar matanya.
Dan benar. Tebakanku tidak salah, perasaan itu memang seperti radar yang tak berbohong ketika berbicara soal cinta. Bagas mencintaiku. Diam-diam di belakang sepupuku, kami menjalin hubungan, saling mencintai satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Aku bahagia karena cintanya.
***
Bagas: Rena, gadis cantik yang selalu kuat dengan senyum menawannya. Tak seperti gadis lain yang cengeng dan manja, ia tahu sekali kapan saat harus bersikap sebagai wanita, dan kapan harus mandiri. Aku jatuh cinta padanya, sejak pertama kali aku melihatnya.
Kami berjanji untuk menjadi sahabat yang saling mendukung mimpi, sehingga untuk waktu yang lama, aku harus berakting menjadi sahabatnya demi menjaga ia tetap dekat denganku. Sekian hari kuamati, aku menangkap gelagat yang sama. Kuberanikan diriku menyatakan cintaku padanya, dan ia membalas cintaku. Aku bahagia karena cintanya.
***
Rena: sudah 3 tahun berjalan kuliah kami, setengah bulan lagi aku harus bisa menyelesaikan kuliah ini. Aku tak ingin ayah dan ibu menunggu terlalu lama. Aku ingin membuat mereka bangga. Tetapi, aku tak ingin meninggalkan Bagas.
Awalnya, aku mengira Bagas sedih dan masih tak rela ditinggalkan. Gelagatnya tampak aneh dan menjadi pendiam. Kami jadi jarang bertemu berdua seperti dulu lagi. Ia hanya muncul saat sepupuku ada, dan sisanya ia habiskan di kamar sendiri atau di luar, dengan alasan-alasan yang tak pernah kuketahui. Apakah dia sudah punya yang lain?
Aku berusaha mengusir pikiran buruk itu, dan menganggap bahwa aku terlalu sensitif sebagai seorang wanita. Tetapi lambat laun, sikapnya benar-benar mengganggu, sampai...
"Kamu apa-apaan sih? Aku ngerasa kamu menghindar deh, apa aku berbuat salah sama kamu?" aku mendorong tubuh Bagas ke dalam rumah kontrakan, saat kutanggap dia hendak pergi menghindariku lagi. Kali ini aku tak kehabisan akal. Aku berpura-pura harus kuliah pagi, namun kutunggu dia keluar dari persembunyiannya.
"Apa sih Ren? bukannya seharusnya kamu kuliah pagi ini? aku juga buru-buru nih!" tegas Bagas padaku tanpa melihat wajahku. Ia menatap ke jalan, seolah memang tak ingin diganggu. "Nggak. Tunggu dulu. Jelasin dulu ke aku, kenapa kamu jadi bersikap aneh begini? Baru deh aku akan melepaskan kamu," kataku lagi.
"Aku capek. Aku punya banyak tanggung jawab kepada kedua orang tuaku. Jadi aku minta kamu nggak mengganggu aku. Itu aja, aku harap kamu bisa mengerti tanpa menuntut sesuatu yang tak perlu dijelaskan lagi. Sudah! Aku pergi." Bagaspun sekejap saja menghilang dengan motornya. Meninggalkan tanda tanya yang perlahan luntur dibawa air mata. Segera saja kusadari, mataku sudah tak sanggup menahan kaca-kaca yang makin menebal. Kaca tersebut kemudian jatuh, pecah dan membasahi bajuku.
Semenjak hari itu aku selalu bertanya, apa yang salah dari diriku. Sepupuku jadi heran, mengapa aku dan Bagas lebih sering murung dan menyendiri. Namun, aku berhasil sekali lagi mengelabuinya. Sebulan cukup memberiku waktu untuk menjadi wanita yang cengeng dan tidur di atas air mata. Kuseka air mata itu, dan segera kuselesaikan kewajibanku agar bisa kubanggakan sepulang dari kota nanti. Ayah, ibu, tunggu anakmu...
***
Bagas: Aku tak ingat sejak kapan aku merasa sakit perut. Sakit nyeri yang semakin hari semakin kuat ini mengangguku, hingga suatu hari aku nyaris pingsan dan berhasil ditolong oleh Roy. Iapun menyarankanku bermain ke rumahnya. Ayahnya adalah seorang dokter, mungkin ia bisa membantu memeriksa kondisiku dengan cuma-cuma. Roy tahu benar aku anak perantauan, jadi kali ini ia meminta ayahnya tak menarik sepeserpun dari jasanya.
"Sejak kapan kamu merasa sakit perut begini?" tanya ayah Roy. Aku menggeleng, aku bahkan tak pernah ingat. "Nggak ingat, Om. Biasanya memang cuma mual-mual saja, seperti sakit maag, tapi diminumi obat juga udah baikan kok. Mungkin hari ini kelelahan saja," hiburku.
"Apakah kamu juga seringkali merasa pusing karena anemia?" tanyanya lagi membuatku jadi curiga. "Iya kadang sih, Om. Kenapa ya? apakah serius Om?" aku jadi deg-degan dan cemas.
"Om sarankan kamu pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan sinar X. Nanti Om beri pengantarnya. Om tidak yakin, tetapi dari gejala dan keluhan yang kamu rasakan, Om rasa ini adalah kanker perut. Kita harus tahu, sudah seberapa besar ia berkembang di dalam perut dan mengganggu lambungmu." Bagaikan petir di siang hari, semua berita itu menyambar tanpa memberi ampun. Tanpa menunggu lama akupun mengikuti saran Om, dan memeriksakan diri. Masih dibantu oleh Roy dan ayahnya, aku mendapatkan diriku ternyata sudah berada di stadium 4. Om bilang tak berani memprediksikan usia, karena usia itu di tangan Tuhan. Yang dapat dilakukannya adalah membantu pengobatakanku dan meringankan rasa sakitku.
Hari itu, aku merasa hidupku hancur. Aku takut kehilangan segala sesuatu yang tengah manis kunikmati saat ini. Aku takut kehilanganmu Ren...
***
Rena: Hari ini adalah hari wisudaku. Rasanya sebagian beban terlepas dari bahuku. Namun, ada satu hal yang membuatku gelisah sedari tadi. Aku tak menemukan batang hidung Bagas di manapun, apakah ia benar-benar sudah melupakanku? Apakah dia tak sedikitpun ingin merayakan hari bahagiaku?
Aku meminta ayah dan ibuku untuk pulang lebih dulu. Berbekal alasan masih ingin mengurus surat ini itu, aku akan tinggal 2 minggu lagi di sini. Dalam hati aku sadar, 2 minggu itu akan kumanfaatkan baik-baik untuk mencari tahu mengapa Bagas berubah.
***
Bagas: Aku tahu ini adalah hari terakhir Rena di sini. Dengan terpaksa aku harus menemaninya sampai ke stasiun. Aku tetap menunjukkan sikap dingin kepadanya, walau hati ini rasanya tak rela. Ingin sekali aku memeluknya, menghujaninya dengan ciuman selamat karena ia berhasil menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Tapi setiap kali melihatnya, kuurungkan niat itu. Aku tak ingin melihatnya terluka. Aku sangat mencintainya.
"Aku ingin mampir ke taman itu dulu Gas," kata Rena dengan lirih. Awalnya aku enggan, namun melihat wajahnya yang memelas, akupun mengantarnya ke taman tempat kami sering duduk berdua dulu.
Ia berlari ke sebuah pohon, dicarinya inisial yang kami pahat di sana dulu. B & R, semuanya tak ada. Rena terisak dan memekik lirih, "hilang... semuanya hilang... di mana ya? kayaknya di sini, tapi kok nggak ada. Gas, hilang Gas..." aku yang tak tega sengaja menjaga jarak. Aku tak ingin terlibat emosinya saat itu. Kubiarkan ia menangis sendiri hingga ia puas. Ia diam, menghapus air matanya, dan berjalan ke arahku.
"Aku tak mengerti sampai sekarang, mengapa sikap dinginmu itu tetap saja kau tunjukkan. Apa sih yang sebenarnya kau inginkan? Aku tak tahu. Baiklah, mungkin memang sudah ada yang mengisi hatimu. Antar aku ke stasiun Gas," kata Rena dengan mata sayu tanpa energi. Keceriaan dan semangatnya seperti luntur disapu kesedihan mendalam di hatinya.
Akupun mengantarnya ke stasiun, melepas kepergiannya yang sebenarnya tak kurelakan. Untunglah hari itu hujan, setiap tetes air hujan itu menyelamatkanku. Air mata yang keluar dan mengalir di pipiku tak ada yang tahu. Aku hanya berjalan gontai dan membiarkan orang yang kusayangi pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya. Aku hanya berharap ia tak terluka dan tak bersedih akan kepergianku...
Maafkan aku Ren, aku mencintaimu...
***
Rena: Yah, demikianlah cinta. Mungkin aku saja yang terlalu berharap dan memimpikan yang tidak-tidak. Terpaksa harus kutelan pedih ini sendiri, tanpa tahu kesalahanku yang sebenarnya. Oh, aku tahu. Kesalahanku adalah mencintaimu yang tak mencintaiku juga.
Baiknya, aku kubur semua perasaan itu. Aku akan kembali ke kotaku. Selamat tinggal, Bagas...

Puisi Cinta Karya Pak Habibie Untuk Mengenang Ibu Ainun


nah kalo ini nggak kalah serunya tentang puisi pak habibi yg dipersembahkan khusus untuk sang istri wah ternyata pak habibi memiliki sosok yg romantis yah ::)
Vemale.com - Cinta sejati tidak akan pernah padam, walaupun raga sudah pergi menghadap sang Pencipta.
Keabadian cinta sejati yang diberikan bapak BJ Habibie kepada ibu Ainun tidak hanya dirasakan mereka berdua, tetapi juga dirasakan seluruh warga Indonesia. Saat berita wafatnya ibu Ainun tersebar, kita bisa melihat sendiri bagaimana bapak Habibie sangat kehilangan. Saat kesedihan dalam wajah terpancar, maka kesedihan dan rasa kehilangan itu menyentuh hati kita. Kita bisa merasakan betapa besar cinta seorang BJ Habibie kepada mendiang istrinya.
Seribu hari telah berlalu. Pada tanggal 15 Februari 2013, berlangsung peringatan 1.000 hari wafatnya Ainun di kediaman Habibie, Jl. Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan. Dalam acara tersebut, bapak Habibie menuliskan sebuah puisi cinta untuk ibu Ainun. Inilah puisi yang menggambarkan betapa dalam rasa cinta beliau.
 
 
SERIBU
Sudah seribu hari Ainun pindah ke dimensi dan keadaan berbeda.
Lingkunganmu, kemampuanmu, dan kebutuhanmu pula berbeda.
Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna dan abadi tak berbeda.
Kita tetap manunggal, menyatu dan tak berbeda sepanjang masa.

Ragamu di Taman Pahlawan bersama Pahlawan bangsa lainnya.
Jiwa, roh, bathin dan nuranimu menyatu denganku.
Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun.
Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan lagi sepanjang masa.

"Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun.
Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan dan kehendak-Mu Allah.
Kami siram dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa dan budaya kami,
Yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi sepanjang masa.

Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami.
Perekat kami menyatu, manunggal jiwa, roh, bathin dan nurani kami.
Di mana pun, dalam keadaan apa pun kami tetap tak terpisahkan lagi.
Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun.. sampai akhirat.

Bacharuddin Jusuf Habibie
Jakarta, 15 Februari 2013 
 
Semoga cinta abadi ini tidak hanya dirasakan oleh bapak Habibie dan ibu Ainun, semoga kita juga merasakan cinta sejati yang sama.

Berawal Dari Sayur Lodeh, Soekarno Jatuh Cinta Pada Hartini

cuma pengen share aja tentang Pak Soekarno dan istrinya, yang selama ini kita kenal sebagai Pak Presiden tetapi juga memiliki kisah cinta yang menarik juga loh.

Vemale.com - Memiliki kharisma yang mempesona membuat mantan presiden RI pertama ini dipuja banyak wanita cantik. Bahkan, sepanjang hidupnya, Soekarno dikelilingi wanita-wanita cantik yang bersedia menjadi istri baginya.
Tercatat oleh negara, sembilan istri sempat dinikahi Soekarno. Berbekal intelektualitas yang tinggi, kesopanan, serta sikap yang hangat, sulit rasanya menolak cinta dari pria yang menjadi nomor satu di bumi pertiwi.
Dalam pernikahannya, istri keempat Soekarno adalah sosok yang dikenal setia mempertahankan status pernikahannya. Sekalipun Soekarno sempat kecantol dan menikah dengan wanita lain, ia tak keberatan dimadu. Sedangkan istri kedua dan ketiganya, memilih hidup tenang dan kembali pada kesendiriannya.
Diceritakan, Hartini dipinang oleh sang proklamator pada 1953. Saat itu Hartini berusia 29 tahun dengan status janda beranak lima.
Dikutip dari Merdeka.com, keduanya mengawali pertemuan di Candi Prambanan, Jawa Tengah. Saat itu Soekarno sedang mengadakan kunjungan kerja. Sebuah sumber lain, penasoekarno.wordpress.com mengatakan bahwa Hartini adalah salah satu ibu-ibu yang sibuk di dapur rumah Walikota Salatiga, di mana Soekarno singgah setelah memberikan pidato di Lapangan Tamansari.
Lelah berorasi di depan rakyat, Soekarnopun diajak mampir dan menikmati menu makan siang yang telah disiapkan. Aroma masakan sayur lodeh yang disiapkan Hartini membuat Soekarno bertanya-tanya, siapa gerangan yang memasak sayur lodeh kesukaannya dengan rasa seenak itu. Di sanalah awal keduanya berkenalan dan berjabat tangan dengan erat.
Sekembalinya Soekarno ke Jakarta, ia tak bisa melupakan paras ayu nan lembut Hartini. Menyadari bahwa ini adalah rindu, Soekarno kemudian mengambil secari kertas, dan menuliskan sebaris kalimat sebagai surat cinta pertamanya:
 
 
"Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir."  
 
Senang dengan panggilan kesayangan 'Tien' yang dilontarkan Soekarno, Hartinipun mulai galau. Namun, ia menikmati surat-surat bernada cinta dan telegram-telegram yang semakin sering dikirimkan. Kali ini, Soekarno menyematkan nama Srihana, nama samaran yang dipakai saat menuliskan surat cintanya pada Hartini, yang disebut Srihani. Demikianlah kisah cinta Srihana Srihani terus berlanjut.
Dilamar sebagai istri, tak langsung membuat janda berparas ayu mempesona itu mengiyakan pinangan Soekarno. Ia butuh waktu yang cukup lama untuk mengiyakannya. Pak Osan Murawi dan Mbok Mairah, kedua orangtua Hartini pernah mengatakan sebuah pernyataan atas kebimbangan hati putrinya, "Dimadu itu abot, biarpun oleh raja atau presiden. Opo kowe kuat? Tanyakan hatimu. Apapun keputusanmu, kami memberi restu..."
Berbekal dukungan orangtuanya, akhirnya Hartini tak kuasa menolak pinangan Soekarno lagi. Namun, ia adalah wanita yang tahu diri. Ia meminta Fatmawati untuk tetap menjadi ibu negara, sedangkan dirinya tetap menjadi istri kedua.
 
 
"Ya, dalem bersedia menjadi istri Nandalem. Tapi dengan syarat, ibu Fat tetap first lady, saya istri kedua. Saya tidak mau ibu Fat diceraikan, karena kami sama-sama wanita."  
 
Kelembutan, kebijaksanaan dan kesetiaan Hartini ini dibuktikan dengan tetap menjadi istri saat kekuasaan Soekarno sudah memasuki usia senja. Dalam pernikahannya, mereka dikaruniai dua putra yaitu Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra.
Hartini tetap mendampingi Soekarno hingga ajal menjemputnya. Bahkan, kabarnya beliau menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Hartini, di RS Gatot Subroto, 21 Juni 1970.

Air Mata Adalah Hal Terindah Dalam Cinta


Vemale.com - Apa yang ada di benak Anda saat berbicara soal air mata? Wanita yang cengeng? Problem hidup yang berlebihan? Rasa sedih? Duka? Ditinggal kekasih?
Air mata sebenarnya adalah butir sederhana yang menceritakan bagaimana indahnya cinta.
Setiap air apapun yang jatuh ke bumi, pada akhirnya akan bermuara di sebuah sungai. Pada suatu hari, dua butir air mata dari orang yang berbeda akhirnya bermuara dan bertemu di sungai. Keduanya terombang ambing dan mengalir terbawa air. Mengusir rasa bosan, akhirnya mereka berkenalan.
"Siapakah kamu?" tanya air mata dari seorang gadis yang baru saja putus dari kekasihnya.
"Aku adalah air mata dari gadis yang berhasil merebut kekasih tuanmu," jelasnya.
"Hmm... mengapa kau bisa ada di sini?" sambungnya
"Sejak menjadi kekasih yang baru, awalnya ia bahagia. Namun, segera ia sering menangis, terluka dan kecewa. Apa yang dirasakannya, tak seperti yang dibayangkan sebelumnya," tuturnya bercerita. Ia juga menambahkan, bahwa sejak meninggalkan kekasihnya, pria itu jadi sosok yang posesif, pemarah, pencemburu dan kasar.
Si air mata gadis yang ditinggalkan mengangguk dan berkata. "Wah, padahal selama ini tuanku selalu menangis dan meratapi nasib, mengapa ia harus ditinggalkan. Ternyata tak disangka malah begitu ceritanya..." tuturnya.
Cinta itu memang aneh kan? Bisa membuat seseorang menangis karena kehilangan. Bisa juga membuat orang menangis karena telah mendapatkan yang ia inginkan. Cinta membuat orang tampak kuat dan lemah sekaligus. Cinta menunjukkan kebahagiaan dan pengorbanan. Cinta membuat seseorang tampak cerdas dan bodoh dalam waktu bersamaan. Cinta membuat orang mandiri, sekaligus merasa ketergantungan. Cinta membuat orang merasa membutuhkan, namun juga membencinya. Cinta membuat orang menginginkan seseorang yang telah melukainya.
Pada akhirnya, yang kalah dan menang sama-sama berurai air mata. Namun, air mata itu adalah hal terindah dalam cinta. Karena dengan begitu, semua perasaan akan tertuang dengan jujur, dan ia menyatukan yang kalah dan menang.

Kau Tak Kan Terganti


Vemale.com - Mencintai seseorang berarti menyerahkan seluruh hati, jiwa dan raga kepada dia yang kita cintai. Kenangan, waktu-waktu bersama juga ikut dalam perjalanan cinta yang kita lalui. Kamu, iya kamu, kamu tidak akan pernah tergantikan di hatiku karena kamulah apa yang hati, jiwa dan ragaku perjuangkan.

Adalah suatu kebohongan jika kini aku tak lagi berkutat dengan bayanganmu. Entah apa lagi. Aaku memberanikan diri menuliskan surat ini tentangmu.
Kamu adalah bagian yang tak pernah akan ku tukar dengan apapun. Sedikitpun tak akan pernah terganti. Hingga detik ini, aku masih berusaha keras untuk menolak perasaanku yang memilih untuk pergi dan tak lagi bertahan di hatimu.
Kamu adalah pria baik. Harusnya banyak wanita baik di luar sana yang menyadarinya. Aku ingin melihatmu bahagia di ujung pelangi sana. Ini janjiku, dengan atau tanpa kehadiraku, kamu harus bahagia.
Aku tak lagi memaksa kamu untuk kembali. Cukup sudah aku menyiksa dirimu dengan keterpaksaanmu itu. Sekarang, gapailah mimpimu. Rengkuhlah mimpimu. Hanya itulah yang mampu membuatku luluh dan rela melepaskanmu.

Salam sayang untukmu yang tak akan ku temui lagi,

Ash  
Melepaskan memang bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan keikhlasan dan kekuatan yang besar dan jiwa yang lapang. Guys, mengikhlaskan orang yang kita cintai demi kebahagiaannya juga merupakan wujud dari cinta kita. ;)

Kamis, 17 Januari 2013

my best friend and friendship forever *aminn :D #kempot's13 :* {}